Inilah 5 Kasus Gantung Diri Paling Fenomenal di Bulan Januari 2017

Professor Rustri 09 Apr 2017 - 11:23

Rustri.coM
Awas ! Bunuh diri bukan solusi penyelesaian masalah

Wonosari, (infogunungkidul.com)–Kata H Suharto SH, mantan Bupati Gunungkidul periode 2005-2010 warga Gunungkidul itu unik. Pasalnya banyak warganya berani mati namun takut menghadapi kenyataan hidup. Dan kata-kata mantan bupati ini tak bisa serta merta dibantah begitu saja.

Faktanya dalam tempo kurang dari sebulan, warga Kabupaten Gunungkidul disentakkan dengan 5 kasus bunuh diri yang menghebohkan. Entah apa yang ada dibenak orang-orang ini, yang jelas mereka memilih mengakhiri hidupnya di dunia dengan cara tragis, yakni gantung diri.

Dari hasil pengumpulan data yang dilakukan infogunungkidul.com, 4 kasus pelaku bunuh diri dilakukan oleh pria dan 1 wanita. 3 orang diketahui masih berusia produktif karena dibawah usia 50 tahun, sedangkan yang 2 orang sudah paroh baya alias diatas setengah abad.

Kasus gantung diri yang pertama dilakukan oleh Ari Wibowo, 28, warga Tegalsari, Jatiayu, Karangmojo pada Rabu 11 Januari 2017. Lajang yang divonis menderita penyakit hepatitis ini mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Dia melakukan aksi nekad ini dirumah adiknya, Dwi Kusumawati di Padukuhan Ngrombo I, Desa Karangmojo, Kecamatan Karangmojo menggunakan ikat pinggang yang biasa dipergunakan.

Selang 5 hari pasca Ari Wibowo gantung diri, giliran Sukijo, 52, warga Sidorejo, Sodo, Paliyan yang nglalu di bawah sebatang pohon yang ada di belakang rumah. Diketahui Sukijo memiliki riwayat penyakit kelainan mental.

Paling fenomenal di bulan Januari 2017 adalah aksi nekad yang dilakukan Puthut Wijanarko, 26, warga Banaran IV, Banaran, Playen ini mengakhiri hidupnya di bawah kerimbunan dedaunan pohon nyamplung Hutan Wanagama, Minggu, 22 Januari 2017 pagi.

Depresi akibat putus cinta membuat putra sulung Suminto, Kepala Desa Banaran ini mengakhiri hidupnya. Keluarga sebenarnya sudah mencurigai pemuda ini akan berbuat nekad.

Dari status-status Puthut di media sosial, diketahui dia sudah berulangkali keluar masuk RS Jiwa Ghrasia Yogyakarta untuk memeriksakan kejiwaannya. Hanya karena lengah sedikit pengawasan keluarga, nyawa Puthut melayang di bawah pohon nyamplung.

Kasus gantung diri keempat dilakukan kemarin lusa atau Jumat 27 Januari 2017. Pariyah, 61, warga Manukan, Jepitu, Girisubo ditemukan gantung diri di bawah pohon waru belakang rumahnya. Belum diketahui pasti penyebab Pariyah nekad gantung diri.

Dan kasus terakhir yang baru saja terjadi, Minggu, 29 Januari 2017 adalah Bambang Suryadi, 40, warga Ngerboh II, Piyaman, Wonosari tadi pukul 01.00 WIB dinihari ditemukan gantung diri dibawah blandar bambu kamarnya dengan kain sarung.

Depresi akibat tak punya pekerjaan ditambah pisah ranjang dengan istri membuat bapak seorang anak ini bermata gelap. Gantung diri dijadikan pilihan untuk melepaskan diri dari jeratan masalah keduniaan.

Dari data yang dicatat Polres Gunungkidul, selama tahun 2016 saja tercatat ada 31 kasus warga Kabupaten Gunungkidul yang bunuh diri. Tercatat 28 dengan cara gantung diri, 2 masuk luweng dan 1 masuk sumur. Selain itu ada 2 warga yang berusaha bunuh diri namun berhasil digagalkan.

Jika merunut data hingga 5 tahun ke belakang, tercatat ada ratusan nyawa melayang sia-sia akibat bunuh diri di Bumi Handayani. Tahun 2012 sebanyak 40 orang warga bunuh diri, 2013 mengalami penurunan hanya ada 29 kasus. Tahun 2014 angkanya turun lagi hanya ada 19 kasus, baru tahun 2015 angkanya melonjak lagi menjadi 31 kasus bunuh diri.

Tingginya angka bunuh diri bagi warga Bumi Handayani membuat Pemkab Gunungkidul kelabakan.

Berbagai upaya dilakukan untuk mencegah dan menekan angka ini. Salah satu upaya yang dilakukan adalah membentuk Satgas Anti Bunuh Diri atau Satgas Berani Hidup.

Satgas Berani Hidup, dibentuk untuk merespon realita sosial terkait tingginya angka bunuh diri yang ada di Gunungkidul. Satuan Tugas diharapkan dapat segera menekan jumlah bunuh diri dengan melakukan pendekatan langsung ke masyarakat.

Satgas yang beranggotakan pejabat Pemkab Gunungkidul, psikolog, dokter dan tenaga ahli, tokoh agama, tokoh pemuda hingga masyarakat diharapkan bisa terjun langsung ke tengah kalangan warga untuk memberikan pencerahan bagi rakyat agar berani menghadapi kenyataan hidup dan tidak mudah putus asa hingga mengakhiri hidup.

Faktanya kinerja Satgas Berani Hidup belum maksimal, hal ini dibuktikan dengan banyaknya kasus gantung diri setelah pembentuan Satuan Tugas Berani Hidup ini. Perlu kerja keras dan tindakan nyata untuk menekan tingginya angka bunuh diri di Kabupaten Gunungkidul. (Redaksi infogunungkidul.com)


Profile Picture of Professor Rustri
Professor Rustri

Hello semua, saya adalah salah satu kontributor pada situs ini, semua kontributor akan menyertakan artikel unik mereka disini, dengan sumber daya terpercaya, berita terhangat, berita terbaru seputar hal yang terjadi di indonesia.

Related Posts